
Belum hilang melayang dari benak saya
soal Ditho, minggu ini Ben (
masih orang dari masa lalu saya, eh temen doenggg tapiiiii) tiba-tiba nelpon saya setelah setahun lebih hilang kontak. Selain dia sering gonta-ganti nomer, dia jg udah tinggal nun jauh di ujung nusantara ini (kembali ke kampung halamannya, dan konon katanya sudah nikah jg). Jadi sangat wajar bila kita udah jarang komunikasi. Apalagi saya jg udah nyaris melupakan pertemanan kami *
halah..halahhh..*
Tak perlu diperkenalkan, saya sudah tau suara Ben, dengan logat kental daerahnya, dan satu2nya temen saya dengan logat seperti itu yaaahhh cuma dia.. :D
Obrolan panjang lebar kami, menggiring pembicaraan ke arah curcolnya Ben. Nggak ahh.. bukan saya yang menggiring.. Kayaknya emang niat dia nelpon jg mau nyeritain soal ini. Menurut Ben, dia dan istrinya sampe hari ini, di usia kandungan istrinya yang sudah 7 bulan, mereka masih beda agama. Dan saya kaget… Trus nikahnya, di catatan sipil ajah? Tidak, kt Ben. Mereka nikah cuma secara adat.
Wah.. soal ini saya nggak bisa komen buanyak.. apalagi soal beda agama, rasanya terlalu sensitive untuk dibicarakan. Yang menjadi soal adalah, istri Ben mulai dicecar sama keluarganya. Keluarga istri Ben, meminta supaya Ben segera mensahkan pernikahan mereka (sebelum istri Ben melahirkan), tapi jg melarang anaknya untuk ikut agama Ben. Jadi pada intinya, mereka meminta Ben untuk segera pindah agama. Ini semua membuat Ben pusing (
menurut ceritanya sihhh yaa…). Dan Ben meminta pendapat saya.